Wednesday, June 13, 2012

MAKNA DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Oleh:  Siti Rochmijatun, S.Ag.
 (Guru SMPN 1 Sukoharjo)

Ada ketidaksingkronan antara harapan dan kenyataan menyangkut pendidikan. Kita berharap akan muncul masyarakat yang cerdas, berakhlak mulia, dan peduli terhadap lingkungannya, tapi pada kenyataannya sekolah hanya menghasilkan lulusan-lulusan yang tidak kreatif, bermental penjahat, dan terasing dari masyarakat sekitarnya. Ini menandakan ada masalah dalam pendidikan kita.
Ada beberapa problem besar sulitnya mewujudkan pendidikan sebagai agen perubahan masyarakat. Pertama, belum berubahnya paradigma pada masyarakat tentang makna pendidikan. Selama ini, pendidikan dianggap sama dengan sekolah yang lebih menekankan pada proses mendapatkan  pengetahuan (pengajaran) atau usaha mengembangkan potensi intelektualitas saja. Padahal, lebih dari itu, yang perlu dikembangkan dari seorang individu mencakup berbagai potensi lain seperti budi pekerti dan pembentukan karakter yang memiliki sifat seperti integritas, kerendahan hati, tenggang rasa, menahan diri, kesetiaan, keadilan, kesabaran, kesederhanaan, dan sebagainya. Yang terakhir ini, tidak dapat dan tidak mungkin dilakukan hanya lewat pengajaran di sekolah. Tetapi juga pendidikan dalam masyarakat individu tersebut, termasuk di dalamnya pendidikan keluarga dan lingkungannnya.
Dalam Islam, pendidikan memiliki makna sentral dan berarti proses pencerdasan secara utuh, dalam rangka mencapai sa’adatuddarain,  kebahagiaan dunia akhirat, atau keseimbangan materi dan religious-spiritual. Oleh karenanya, untuk menjadi insan kamil seseorang harus memiliki kesempurnaan iman, ilmu, dan amal. Dan untuk mencapai tingkatan tersebut, seorang anak seharusnya tidak dididik di sekolah formal saja tapi juga dalam kehidupan mereka di masyarakat.



Kedua, yang termasuk masalah mendasar dari sistem pendidikan di negeri kita berakar pada ketidakmampuan seluruh anggota masyarakat untuk berbagi tugas dan tanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan melatih tunas-tunas bangsa. Hal ini ditunjukkan dengan minimnya tingkat kepedulian masyarakat terhadap pendidikan di lingkungan sekitarnya. Bahkan para orangtua sendiri, entah karena ketidakmengertian mereka atau karena memang tidak mau peduli dengan nasib pendidikan anak-anaknya, menganggap bahwa ‘mendidik’ anak itu hanya berarti mampersiapkan uang sekolah, membelikan seragam, buku-buku, dan perlengkapan belajar lainnya. Padahal, pendidikan tidak hanya sebatas pada hal-hal tadi, tapi juga mencakup kehidupan sehari-hari. Apapun yang terjadi di masyarakat merupakan juga pendidikan dan akan berpengaruh pada perilaku seorang anak.
Oleh karena itu, penulis sajikan dalam makalah ini tentang pemikiran pendidikan berlandasan Al-Qur'an dan Hadits dengan alasan, pertama, penulis ingin membangun kesadaran baru bahwa dasar-dasar keilmuan yang ditampilkan oleh Kitab Allah dan Sunnah RasulNya belum dan tak akan tertandingi oleh konsep keilmuan manapun juga. Kedua, penulis juga ingin membangun sebuah kesadaran kiranya kaum intelektual Muslim, terbiasa mengolah otak/ijtihad dalam memahami dan menjabarkan konsep-konsep dasar keilmuan dalam berbagai bidang yang tertuang secara jelas dalam Kitab Sucinya. Tidak sebagaimana sering terjadi dimana kaum intelektual terperosok ke dalam kutipan-kutipan orang lain, yang belum tentu beri'tiqad baik terhadap agama Allah. Belajar menegakkan independensi intelektual ummat adalah aset besar masa depannya.
Namun hal ini tidaklah berarti bahwa ummat Islam tidak mau atau tidak perlu mengambil pendapat orang lain. Melainkan belajar untuk tidak selamanya bergantung pada pendapat orang lain. Dengan demikian, ummat ini betul-netul merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, termasuk kemerdekaan intelektual. Bahkan harapan kita, ummat ini harus menjadi pedoman keilmuan bagi ummat manusia sebagaimana masa-masa lalunya yang indah.

MAKNA PENDIDIKAN
Dalam Islam, berbicara mengenai pendidikan tidak dapat dilepaskan dari asal muasal manusia itu sendiri. Kata "pendidikan" yang dalam bahasa arabnya disebut "tarbiyah" (mengembangkan, menumbuhkan, menyuburkan) berakar satu dengan kata "Rabb" (Tuhan). Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan adalah sebuah nilai-nilai luhur yang tidak dapat dipisahkan dari, serta dipilah-pilah dalam kehidupan manusia. Terpisahnya pendidikan dan terpilah-pilahnya bagian-bagiannya dalam kehidupan manusia berarti terjadi pula disintegrasi dalam kehidupan manusia, yang konsekwensinya melahirkan ketidak-harmonisan dalam kehidupannya itu sendiri.
Pendidikan atau tarbiyah berasal dari kata "rabaa-yarbuu-riban wa rabwah" yang berarti "berkembang, tumbuh, dan subur". Dalam Al Qur'an, kata "rabwah" berarti bukit-bukit yang tanahnya subur untuk tanam-tanaman. Lihat QS: Al Baqarah [2]: 265.[1]
ã@sWtBur tûïÏ%©!$# šcqà)ÏÿYムãNßgs9ºuqøBr& uä!$tóÏGö/$# ÅV$|ÊötB «!$# $\GÎ7ø[s?ur ô`ÏiB öNÎgÅ¡àÿRr& È@sVyJx. ¥p¨Yy_ >ouqö/tÎ/ $ygt/$|¹r& ×@Î/#ur ôMs?$t«sù $ygn=à2é& Éú÷üxÿ÷èÅÊ bÎ*sù öN©9 $pkö:ÅÁム×@Î/#ur @@sÜsù 3 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÅÁt/

Sedangkan kata "riba" mengandung makna yang sama. Lihat QS: Ar Ruum [30]:39.[2]
!$tBur OçF÷s?#uä `ÏiB $\/Íh (#uqç/÷ŽzÏj9 þÎû ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Z9$# Ÿxsù (#qç/ötƒ yYÏã «!$# ( !$tBur OçF÷s?#uä `ÏiB ;o4qx.y šcr߃̍è? tmô_ur «!$# y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqàÿÏèôÒßJø9$#

Dengan pengertian ini jelas bahwa mendidik atau "rabba" bukan berarti "mengganti" (tabdiil) dan bukan pula berarti "merubah" (taghyiir). Melainkan menumbuhkan, mengembangkan dan menyuburkan, atau lebih tepat "mengkondisikan" sifat-sifat dasar (fithrah) seorang anak yang ada sejak awal penciptaannya agar dapat tumbuh subur dan berkembang dengan baik. Jika tidak, maka fithrah yang ada dalam diri seseorang akan terkontaminasi oleh "kuman-kuman" kehidupan itu sendiri. Kuman-kuman kehidupan inilah yang diistilahkan oleh hadits tadi dengan "tahwiid" (mengyahudikan) "tanshiir" (menasranikan) dan "tamjiis" (memajusikan). Pada hadits yang lain disebutkan "ijtaalathu as Syaithaan" (digelincirkan oleh syetan).
Kuman-kuman kehidupan atau meminjam istilah hadits lain "duri-duri perjalanan" (syawkah) tentu semakin nyata dan berbahaya di zaman dan di mana kita hidup saat ini. Masalahnya, apakah kenyataan ini telah membawa kesadaran bagi kita untuk membentengi diri dan keluarga kita?[3]
Imam al-Baidhawi dalam tafsirnya Anwar at-Tanzil wa 'Asrar at-Ta'wil, mengatakan bahwa pada dasarnya ar-rab itu bermakna tarbiyah yang makna lengkapnya adalah menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan. Ar-Raghib al-Ashfahani dalam bukunya Mufradat, mengatakan bahwa tarbiyah adalah menumbuhkan perilaku-perilaku secara bertahap hingga mencapai batasan kesempurnaan.[4]
Menurut Al Qur'an, asal muasal komposisi manusia itu terdiri dari tiga hal yang tidak terpisahkan: 1. Jasad. 2. Ruh. 3. Intelektualitas. QS. As Sajdah [32]: 7-9 [5]
Semua manusia adalah sama dalam komposisi ini. Mereka semua tercipta dan dilahirkan ke alam dunia ini dengan dasar penciptaan dan kehidupan yang tidak berbeda. Kesimpulan ini telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai haditsnya, diantaranya :[6]
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِالرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاء

Bahkan Al Qur'an itu sendiri dengan tegas menyatakan bahwa komposisi penciptaan yang sempurna ini (ahsanu taqwiim) dan diistilahkan dengan "fithrah Allah" (insaniyah/kemanusiaan), tidak mungkin terganti atau terubah.[7]
Manzoor Ahmed mendefinisikan pendidikan sebagai suatu usaha yang dilakukan individu-individu dan masyarakat untuk mentransmisikan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan dan bentuk-bentuk ideal kehidupan mereka kepada generasi muda untuk membantu mereka dalam meneruskan aktifitas kehidupan secara efektif dan berhasil.[8]
Dengan demikian, makna pendidikan dalam Islam adalah sebuah proses pendewasaan seseorang melalui pentahapan-pentahapan untuk kesempurnaan fisik, ruh/iman dan intelektual.

FUNGSI PENDIDIKAN
Sangat disayangkan, mutu pendidikan masyarakat muslim (seperti pada pesantren, sekolah agama, dan lain-lain),  yang berfungsi sebagai media pengembangan masyarakat muslim, keadaannya masih sangat memprihatinkan. Baik dari segi metode, manajemen, kurikulum, maupun dari fasilitas penunjang pendidikan. Sebagian pesantren misalnya, entah karena alasan untuk menjaga kemurnian ajaran agama atau karena ketakutan terhadap sebuah perubahan, dalam pendidikannya terkesan tertutup terhadap usaha-usaha pembaruan, penelaahan ulang, apalagi usaha untuk mendekonstruksi “kebenaran-kebenaran” yang telah lama mengakar di dunia pesantren.
Implikasi dari ketertutupan dan eksklusivisme ini terwujud dalam tiadanya budaya kritis, analitis, dan reflektif terhadap tradisi pendidikan pesantren. Akibat besarnya, dalam melihat ajaran lain yang berbeda; selalu merasa paling benar dan menganggap ajaran lain salah, apapun alasannya. Bila keadaannya demikian, pendidikan hanya menjadi media perpecahan dalam masyarakat dan telah melenceng dari fungsinya sebagai media pengembangan masyarakat.
Untuk itu, dengan semangat yang terkandung dalam kaidah “al-muhafadzah ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah” (membina budaya-budaya klasik yang baik dan terus menggali budaya-budaya baru yang lebih konstruktif), perlu kiranya sebuah usaha membangun kembali segala hal dalam pendidikan Islam. Terutama dalam rangka menjadikan pendidikan Islam sebagai pendidikan yang tanggap terhadap perubahan dan tuntutan zaman, berwawasan masa depan dan berada di garda depan dalam membentuk masyarakat yang terbuka terhadap segala perbedaan. Semua itu tentu memerlukan sebuah kontrol yang dapat membatasi perubahan tersebut untuk tidak keluar dari orientasi, nilai-nilai, dan idealisme yang dibangun sejak awal.
Ummat Islam saat ini nampaknya membuktikan prediksi Rasulnya lima belas abad yang lalu. Dalam haditsnya Rasulullah menjelaskan :[9]  
يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
Cinta dunia yang berlebihan, sebagai konsekwensi logis dari tertanamnya faham materialisme dalam diri kita melahirkan sikap-sikap yang seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi (abadi).[10]
Sikap yang demikian pula yang menyebabkan kita menyikapi pendidikan anak-anak kita seolah-olah tak ada aspek lain dalam hidupnya kecuali memburu dunia dengan segala manifestasinya. Sehingga kita bersikap buta hati terhadap kisah Ibrahim dan Ya'quub untuk menghayati bagaimana mereka telah mendidik anak keturunan mereka. Al Qur'an mengisahkan, Ibrahim dan Ya'qub senantiasa mewasiatkan anak-anaknya tentang agama ini.[11] Bahkan Ya'qub AS disaat-saat menjelang maut menjemputnya, menyempatkan diri bertanya kepada anak-anaknya: "madzaa ta'buduuna min ba'di" (Apa gerangan yang akan kamu sembah setelah kematianku)?[12] Bukan dengan kata-kata "maadza ta'kuluuna" (apa yang akan kamu makan setelah aku meninggal). Kepedulian terhadap kelangsungan kesadaran beragama anak-anak kita sangat minim sekali. Sehingga sebagai ilustrasi, seringkali jika anak kembali dari sekolah yang ditanyakan adalah nilai berapa yang kamu dapatkan? Sementara shalatnya tidak terpedulikan sama sekali.
Islam sendiri menempatkan pendidikan di tempat sangat terhormat. Saksinya adalah ayat-ayat alqur’an dan ratusan hadits yang berhubungan dengan pendidikan, terutama yang berhubungan dengan ilmu. Salah satu yang populer adalah: “Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan menuntut ilmu beberapa tingkatan”[13] Ayat ini diperkuat dengan perintah Nabi yang mewajibkan bagi setiap muslim laki-laki dan  perempuan untuk menuntut ilmu.[14] Hal ini sangat ironis dengan kondisi masyarakat Islam yang dinilai sebagian kalangan sebagai masyarakat yang jauh tertinggal di banding masyarakat lain selain Islam.
M. Athiyah al-Abrasyi berpendapat bahwa tujuan pendidian adalah mencapai akhlak yang sempurna, pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam.[15] Demikian pula al-Farabi dalam filsafatnya dapat diketahui bahwa tujuan pendidikan adalah mengantarkan peserta didik mencapai tujuan tertinggi jiwanya, yaitu kebahagiaannya di dunia dan akhirat, melalui aktualisasi potensi jiwa dan bagaimana hidup bersama dengan kerja sama, saling bantu, dan mengenal kebenaran dan keutamaan, juga hidup sesuai dengan tuntunan kebenaran dan keutamaan tersebut.[16]
Syarif  Khan, mendefinisikan maksud dan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:
1.      Memberikan pengajaran Al-Qur'an sebagai langkah pertama pendidikan.
2.      Menanamkan pengertian-pengertian berdasarkan pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang terwujud dalam Al-Qur'an dan Sunnah dan bahwa ajaran-ajaran ini bersifat abadi.
3.      Memberikan pengertian-pengertian dalam bentuk pengetahuan dan skill dengan pemahaman yang jelas bahwa hal-hal tersebut dapat berubah sesuai dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat.
4.      Menanamkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan tanpa basis Iman dan Islam adalah pendidikan yang tidak utuh dan pincang.
5.      Menciptakan generasi muda yang memiliki kekuatan baik dalam keimanan maupun dalam ilmu pengetahuan.
6.      Mengembangkan manusia Islami yang berkualitas tinggi yang diakui secara universal.[17]
Penulis mengamini sekaligus sebagai kesimpulan dari beberapa pendapat tentang tujuan pendidikan, sebagaimana First World Conference on Muslim Education yang diadakan di Makkah pada tahun 1977, menyimpulkan bahwa: Tujuan pendidikan (Islam) adalah menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan.

PENDIDIKAN ISLAM SIFATNYA TERPADU
Telah disebutkan terdahulu bahwa Islam memandang pendidikan sebagai sesuatu yang identik dan tidak terpisahkan dari asal muasal penciptaan manusia/ fithrah/ insaniyah manusia itu sendiri, yakni terdiri dari tiga hal: Jasad, Ruh, dan Intelektualitas. Dengan demikian, pendidikan dalam pandangan Islam meliputi tiga aspek yang tidak dapat dipilah-pilah: 1. Pendidikan jasad (tarbiyah jasadiyah), 2. Pendidikan ruh (tarbiyah ruhiyah), 3. Pendidikan intelektualitas (tarbiyah 'aqliyah).
Ketiga bentuk pendidikan tersebut tidak mungkin dan tak akan dibenarkan pemilahannya dalam ajaran Islam. Sebab pendidikan berhubungan langsung dengan komposisi penciptaan/kehidupan manusia. Memilah-milah pendidikan manusia, berarti memilah-milah kehidupannya. Sehingga pada dasarnya pendidikan Islam tidak mengenal dalam dikhotomi ilmu, dikhotomi ilmu muncul untuk mengkaburkan nilai-nilai agama yang masuk dalam disiplin ilmu, dan juga sebagai upaya untuk sekulerisasi.
Pada dasarnya, konsep tarbiyah Islamiyah merupakan konsep yang sangat ideal bahkan tidak ada satu pun konsep yang mampu menandingi konsep yang ditawarkan oleh Islam. Hal ini terpotret dari kisaran sejarah masa keemasan Islam (al-‘ushur al-dzahabiyah), periode Abbasiyah yang telah berhasil dengan gemilang menerapkan konsep tersebut, hingga membuat dunia tercengang menyaksikan survive pendidikan Islam kala itu. Salah satu faktor suksesnya pendidikan Islam pada masa lalu adalah karena mereka tidak pernah mendikotomi ilmu pengetahuan. Semua ilmu mereka kaji dan pelajari, tanpa melihat apakah itu ilmu umum atau agama. Bahkan konon, Jabir ibn Hayyan di samping menjadi tokoh sufi, ia juga ahli dalam ilmu Matematika.
Kembali kepada konsep sederhana tentang pendidikan yang diutarakan oleh Imam al-Zarnuji dalam Ta'lim al-Muta'allim, kita bisa menjumpai bagaimana seorang al-Zarnuji telah lebih dahulu membicarakan tentang kecerdasan intelektual walau tidak disampaikan dengan vulgar. Dalam Ta'lim kita bisa menemukan perkataan beliau mengenai kecerdasan intelektual (IQ) yang dibahasakan dengan singkat namun kaya akan makna yang berbunyi :[18]
وأقوى أسباب الحفظ الجدّ والمواظبة وتقليل الغداء
Serta mengetengahkan dimensi praktisnya :[19]
ولا بد لطالب العلم من المذاكرة والمناظرة والمطارحة
Kemudian al-Zarnuji tidak melupakan pentingnya faktor kecerdasan emosional (EQ) dalam proses pengembangan kepribadian. Dalam bahasa yang santun dan ramah al-Zarnuji berkata :
وينبغى ان يكون صاحب العلم مشفقا ناصحا غير حاسد[20]
Kemudian diteruskan lagi dalam bagian yang lain :
ثم لابد لطالب العلم من التوكـل فى طلب العلم [21]
Bahkan yang lebih mengagumkan, al-Zarnuji pun telah menyadari bahwa dua kecerdasan tadi akan sia-sia bila tidak dimbangi dengan kecerdasan spiritual (SQ) sehingga al-Zarnuji dengan bijak berucap : [22]
وينبغى ان ينوى المتعلم بطلب العلم رضاالله تعالى والدارالأخرة وإزالة الجهل عن نفسه وعن سائرالجهل وإحياءالدين وإبقاء الإسلام
Pada akhirnya kita menemukan sebuah kenyataan dan sulit bagi kita untuk mengingkarinya betapa Ta'lim al-Muta'allim dengan segala kesederhanaannya telah memberikan sebuah konsep mengenai metode pendidikan yang cukup ideal. Ta'lim al-Muta'allim juga dengan samar telah menampilkan sketsa dan gambaran tentang keharusan adanya keterhubungan yang utuh antara kecerdasan intelektual lebih berkaitan dengan fungsi akal dengan kecerdasan emosional serta kecerdasan spiritual dimana keduanya sedikit banyak terpengaruhi oleh aspek moralitas dan etika.[23]
Hakikat inilah yang menjadi salah satu rahasia sehingga wahyu dimulai dengan perintah "Iqra" (membaca), lalu dikaitkan dengan "khalq" (ciptaan) dan "Asma Allah" (Bismi Rabbik).[24] Maksudnya, bahwa dalam menjalani kehidupan dunianya manusia dituntut untuk mengembangkan daya inteletualitasnya dengan suatu catatan bahwa ia harus mempergunakan sarana "khalq" (ciptaan) sebagai objek dan "Asma Allah" (ikatan suci dengan Nama Allah/hukumnya) sebagai acuan. Bila ketiganya terpisah, akan melahirkan, sebagaimana telah disinggung terdahulu, suatu ketidak-harmonisan dalam kehidupan manusia itu sendiri.

REORIENTASI MAKNA DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan Islam di Indonesia tidak pernah lepas dari semangat penyebaran Islam yang dilakukan secara intensif oleh para pendahulu dalam kerangka perpaduan antara konteks keindonesiaan dengan keislaman. Tak heran, jika pada awalnya pendidikan Islam tampak sangat tradisional dalam bentuk halaqah-halaqah. Namun seiring dengan kemajuan zaman, modernisasi pendidikan Islam mulai tampak dengan diambilnya bentuk madrasah[25] sebagai salah satu pendidikan Islam, selain pesantren. Semuanya ini dilakukan untuk memenuhi target atau tujuan pendidikan Islam yang berorientasi individual dan kemasyarakatan.
Secara umum, ada dua pandangan teoretis mengenai tujuan pendidikan Islam.[26] Pandangan teoretis yang pertama berorientasi kemasyarakatan, yaitu pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan masyarakat yang baik, baik untuk sistem pemerintahan demokratis, oligarkis, maupun monarkis. Pendidikan bertujuan mempersiapkan manusia yang bisa berperan dan menyesuaikan diri dalam masyarakatnya masing-masing. Berdasarkan hal ini, tujuan dan terget pendidikan dengan sendirinya diambil dari dan diupayakan untuk memperkuat kepercayaan, sikap ilmu pengetahuan, dan sejumlah keahlian yang sudah diterima dan sangat berguna bagi masyarakat. Konsekuensinya, karena kepercayaan, sikap, ilmu pengetahuan, dan keahlian yang bermanfaat dan diterima oleh sebuah masyarakat itu senantiasa berubah, mereka berpendapat bahwa pendidikan dalam masyarakat tersebut harus bisa mempersiapkan peserta didiknya untuk menghadapi segala bentuk perubahan yang ada.[27]
Pandangan teoretis yang kedua lebih berorientasi kepada individu, yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung, dan minat belajar. Pandangan ini terdiri dari dua aliran. Aliran pertama, berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar bisa meraih kebahagiaan yang optimal melalui pencapaian kesuksesan kehidupan bermasyarakat dan ekonomi, jauh lebih berhasil dari yang pernah dicapai oleh orang tua mereka. Dengan demikian, pendidikan adalah jenjang mobilitas sosial ekonomi suatu masyarakat tertentu. Aliran kedua lebih menekankan peningkatan intelektual, kekayaan, dan keseimbangan jiwa peserta didik.[28]
Makna dan tujuan pendidikan di Indonesia dewasa ini harus berorientasi pada wacana dan sekaligus realita multikultural di bangsa ini. Multikulturalisme ingin dijadikan sebagai paradigma baru dalam merajut kembali hubungan antar manusia yang belakangan ini selalu hidup dalam suasana penuh konflik. Multikultural biasa didefinisikan sebagai gerakan sosial-intelektual yang mendorong nilai-nilai keberagaman (diversity) sebagai prinsip inti dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok budaya  diperlakukan setara (equal) dan sama-sama dihormati.[29] Inti dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain sebagai kesatuan, tanpa memperdulikan keragaman budaya yang dimilikinya. Sebagai konsekuensi penerimaan terhadap multikulturalisme ini adalah adanya kesediaan untuk memberikan apresiasi secara konstruktif terhadap segala bentuk tradisi budaya.[30]
Kaitannya dengan pendidikan, kurikulum merupakan cerminan masyarakat karena bagaimanapun sekolah adalah bagian dari masyarakat yang mempersiapkan anak didik atau peserta didiknya untuk kehidupan di masyarakat. Dan karena multikultural merupakan tuntutan kehidupan masyarakat kontemporer, maka tidak dapat tidak bahwasannya nilai-nilai multikultural dalam kurikulum menjadi sangat penting.
Kenyataan yang dapat dilihat selama ini, pendidikan di Indonesia masih sedikit menyentuh persoalan yang berhubungan dengan masalah menghargai kepercayaan-kepercayaan keagamaan dan keragaman kultural yang sangat beraneka ragam. Urgensi dan signifikansi keanekaragaman ini (multikulturalisme) di Indonesia akan memperoleh tempat dalam kehidupan kontemporer saat ini. Hal ini muncul bersamaan dengan kesadaran untuk memperbaiki tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Setidaknya ada alasan-alasan mengapa multikulturalisme perlu diskomodir dalam pendidikan agama.

PENUTUP
Permasalahan pendidikan Islam di Indonesia semakin banyak baik secara internal dan eksternal. Perubahan jaman dengan bendera "modernisasi" telah mempengaruhi sendi-sendi kehidupan yang ada, termasuk dalam pendidikan. Gagasan ulang tentang makna dan tujuan pendidikan Islam sangat urgen sekali mengingat kondisi pendidikan saat ini di Indonesia yang kurang menggembirakan. Makna dan tujuan pendidikan Islam merupakan bagian dari filsafat pendidikan Islam yang sangat mendasari dalam unsur-unsur pendidikan.
Untuk itu yang paling diperlukan guna mengimplementasikan blue-print di atas adalah visi yang jauh ke depan dan political will semua pihak yang terkait yaitu: individu-individu Muslim (termasuk orang tua), para pakar iptek dan agama, institusi-institusi pendidikan, lembaga-lembaga Islam serta pemerintah. Tanpa adanya unifikasi political will berbagai elemen di atas, umat Islam Indonesia akan tetap terbelakang. Dan bila demikian Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju, sebagaimana yang dikatakan oleh Sayidiman Suryohadiprojo, mantan gubernur Lemhanas (Republika, 23/09/1994).
Pesan nabi yang sangat mendalam dan sangat perlu diimplementasikan dalam organisasi kependidikan Islam adalah dalam sabdanya :
علموا أولادكم فإنهم مخلوقون لزمن غير زمنكم [31]
Melihat hadits di atas berarti dalam pendidikan Islam harus selalu up to date, mengikuti perkembangan jaman, termasuk makna dan tujuan pendidikan. Makna dan tujuan pendidikan perlu ditinjau ulang sejauhmana hal tersebut mempengaruhi terhadap proses pengajaran (input maupun outputnya).


والله اعلم بالصواب

DAFTAR PUSTAKA


Ahmed, Manzoor, Islamic Education, New Delhi: Qazi Publishers
al-Ibrasyi, Muhammad Athiyyah., al-Tarbiyyah al-Islamiyyah, ttp: al-Dar al-Qaumiyyah li al-Tiba'ah wa alNasyr, 1964
Aliy As'ad, Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan, Kudus: Menara Kudus, Tanpa Tahun
Al-Jufri, Abdul Kadir., Tarjamah Ta'lim Muta'alim Tariqatta'allum, Surabaya: Mutiara Ilmu, 1995
Al-Qur'an Karim, Departemen Agama RI
Amirah, Ibrahim Basyuni., Tadris al-'Ulum wa al-Tarbiyyah al-Islamiyyah, ttp: Dar al-Ma'arif, 1978
an-Nahlawi, Abdurrahman., Ushulut Tarbiyah Islamiyah wa Asalibiha fil Baiti wal Madrasati wal Mujtama, karya ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Drs. Shihabuddin dengan judul Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: GIP
Arifin, Syamsul., “Muhammadiyah, Multikulturalisme, dan Postradisionalisme”, dalam Agama dan Pluralitas Budaya Lokal, Surakarta: Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003
Baidhawy, Zakiyuddin., “Modifikasi Multikulturalisme untuk Pendidikan Agma, Alternatif Konseptual untuk Indonesia Kontemporer”, dalam Profetika Jurnal Studi Islam, vol. 5, no. 1, Januari 2003, Surakarta: Program Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003
CD komputer, Kutubut Tis'ah
Dahari, Kusun., Konsep Pendidikan al-Farabi, Makalah MSI-UMS, 2006
Khan, Sharif, Islamic Education, New Delhi: Ashish Publishing House, 1986
Misri, Muhammad Munir., al-Tarbiyyah al-Islamiyyah Ushuluha wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-'Arabiyyah, Kairo: 'Alam al-kutub, 1977
Resnik, David B., The Ethics of Science An Introduction, Routledge, London and New York, 1998
Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, Bandung: Mizan, 2003



[1] Artinya, Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya Karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.
[2] Artinya, Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).
[3] Lihat QS. At Tahriim [66]:6
[4] Pembahasan lebih lengkap terdapat dalam Abdurrahman an-Nahlawi, Ushulut Tarbiyah Islamiyah wa Asalibiha fil Baiti wal Madrasati wal Mujtama, karya ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Drs. Shihabuddin dengan judul Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: GIP, hlm. 20-21
[5] üÏ%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&yt/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ . ¢OèO Ÿ@yèy_ ¼ã&s#ó¡nS `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ä!$¨B &ûüÎg¨B . ¢OèO çm1§qy yxÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ¾ÏmÏmr ( Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B šcrãà6ô±n@
Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
[6] HR. Bukhori. Dan banyak teks-teks hadits yang semakna dengan hadits tersebut. Termasuk dalam hadits qudsi yang artinya, "Setiap hambaKu Aku ciptakan dengan kesiapan menjadi lurus (baik). Hanya saja, syetan-syetan menjadikan mereka tergelincir (dalam kesesatan)"
[7] Lihat QS. Ar Ruum [30]: 30
[8] Ahmed, Manzoor (1990), Islamic Education, New Delhi: Qazi Publishers, hlm. 1
[9] HR. Abu Daud (3745), artinya "Suatu saat kamu akan menjadi seperti buih di tengah samudra luas. Terombang-ombang oleh ombak serta mengikut ke arah mana jalannya angin. Para sahabat bertanya: Apakah karena kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah? Tidak, namun kamu ditimpa penyakit "wahan". Para sahabat bertanya: Apakah penyakit wahan itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Hubbu ad Dunya wa karaahiyat al Maut (Cinta dunia dan benci mati)"
[10]  Lihat QS. Al Humazah [104]: 2-3
[11]  Lihat QS. Al Baqarah [2]: 132
[12] Lihat QS. Al Baqarah [2]:133
[13] Lihat al-Mujadilah [58]: 11
[14]  طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ (رواه ابن ماجه – 220)
[15] Al-Abrasyi, M. Athiyah., Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1970, hlm. 1
[16] Dahari, Kusun., Konsep Pendidikan al-Farabi, Makalah MSI-UMS, 2006
[17] Khan, Sharif, Islamic Education, New Delhi: Ashish Publishing House, 1986, hlm.37-38.
[18] "Sebab-sebab kuatnya hafalan (kekuatan intelektual) adalah bersungguh-sungguh, tekun/rajin, dan menyedikitkan makan". Al-Jufri, Abdul Kadir., Tarjamah Ta'lim Muta'alim Tariqatta'allum, Surabaya: Mutiara Ilmu, 1995, hlm. 92
[19] Ibid., hlm. 56
[20]  Ibid., hlm. 77
[21]  Ibid., hlm. 71
[22] Teks-teks tersebut semuanya dikutip dari Aliy As'ad, Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan (Kudus: Menara Kudus, Tanpa Tahun).
[23] Bagaimana hubungan antara aspek moralitas dan etika dengan ilmu bisa dilihat dalam David B. Resnik, The Ethics of Science An Introduction (Routledge, London and New York, 1998). Buku ini dialih bahasakan kedalam bahasa Arab oleh 'Abd al-Nour 'Abd al-Mun'im dengan judul Akhlaqiyat al-'Ilm Madkhal, Kuwait Juni 2005.
[24] Lihat QS. Al 'Alaq: 1-5
[25] Madrasah pertama kali didirikan  oleh Nizhamul Mulk Dinasti Bani Saljuk pada abad ke-15 Hijriyah, meskipun pada abad sebelumnya ada yang mengatakan Naisabur sebagai madrasah yang pertama di dunia Islam. Lihat Muhammad Munir Misri, al-Tarbiyyah al-Islamiyyah Ushuluha wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-'Arabiyyah, (Kairo: 'Alam al-kutub, 1977), hlm. 98.
[26] Tujuan pendidikan Islam harus disandarkan pada ukuran-ukuran yang jelas; (1) filsafat pendidikan Islam agar mampu menghadapi problem-problem sosial, (2) bersifat realistis, terukur, dan memadai sehingga dapat diimplementasikan dengan mudah, (3) sesuai dengan standar umum yang berlaku, bukan berdasarkan sesuatu yang tidak lazim sehingga sulit mengimplementasikan dalam proses pendidikan, (4) bersifat komprehensif, mencakup semua aspek yang dibutuhkan dalam pendidikan, dan (5) melibatkan segenap ahli yang mampu mendukung dalam proses pendidikan. Lihat Ibrahim Basyuni Amirah, Tadris al-'Ulum wa al-Tarbiyyah al-Islamiyyah, (ttp: Dar al-Ma'arif, 1978), hlm. 108-111.
[27] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 163-165. Bandingkan dengan pemikiran Muhammad Athiyyah al-Ibrasyi,  yang menegaskan tujuan pendidikan Islam lebih diorientasikan pada pengembangan pemikiran Islam, kebebasan berfikir, perluasan wilayah kajian, pengembangan ilmu dari berbagai aspek, dan  nuansa falsafinya. Lihat Muhammad Athiyyah al-Ibrasyi, al-Tarbiyyah al-Islamiyyah, (ttp: al-Dar al-Qaumiyyah li al-Tiba'ah wa alNasyr, 1964), hlm. 147.
[28] Ibid.
[29] Zakiyuddin Baidhawy, “Modifikasi Multikulturalisme untuk Pendidikan Agma, Alternatif Konseptual untuk Indonesia Kontemporer”, dalam Profetika Jurnal Studi Islam, vol. 5, no. 1, Januari 2003, (Surakarta: Program Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003), hlm. 3
[30] Syamsul Arifin, “Muhammadiyah, Multikulturalisme, dan Postradisionalisme”, dalam Agama dan Pluralitas Budaya Lokal, (Surakarta: Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2003), hlm. 261.
[31] "Didiklah anak-anakmu ,bahwa  mereka itu dijadikan buat menghadapi masa yang lain (berbeda) dari masa kamu ini". Hadits ini penulis nukilkan dari buku Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam oleh  M. Athiyah al-Abrasyi, hlm. 35. dan sampai saat ini penulis belum menemukan teks aslinya dalam kitab-kitab hadits yang masyhur (kutubut tis'ah : Bukhori, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa'i, Turmudzi, ibnu Majah, Ahmad, ad-Darimi, dan Imam Malik).

No comments:

Post a Comment

Post a Comment