Monday, November 4, 2013

Seri Khutbah Jum'at

HIKMAH KISAH UWAIS AL-QARNI
Bulusari 25 Oktober 2013

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ

Karya ilmiah berupa tesis di Al-Azhar Kairo Mesir oleh Muhammad Waliyullah an-Nadwi dari India berjudul Nubuuaat ar-Rasuul Shallallaah ‘Alaih Wa Sallam Maa Tahaqqaqa Minhaa Wa Maa Yatahaqqaq (Nubuat-nubuat Rasulullah SAW Yang Telah Terjadi dan Yang Akan Terjadi) telah ditemukan 188 riwayat atau hadits tentang prediksi atau ramalan nabi pada kondisi Islam yang akan dating. Salah satu diantaranya adalah kisah sahabat Uwais al-Qarni.


إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ إِنَّ رَجُلًا يَأْتِيكُمْ مِنْ الْيَمَنِ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ لَا يَدَعُ بِالْيَمَنِ غَيْرَ أُمٍّ لَهُ قَدْ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا اللَّهَ فَأَذْهَبَهُ عَنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ الدِّينَارِ أَوْ الدِّرْهَمِ فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ
“Sesungguhnya akan datang kepadamu seorang laki-laki dari Yaman yang biasa dipanggil dengan Uwais. Dia tinggal di Yaman bersama Ibunya. Dahulu pada kulitnya ada penyakit belang (berwarna putih). Lalu dia berdo’a kepada Alloh, dan Allohpun menghilangkan penyakit itu, kecuali tinggal sebesar uang dinar atau dirham saja. Barang siapa di antara kalian yang menemuinya, maka mintalah kepadanya untuk memohonkan ampun kepada Alloh untuk kalian.” (HR. Muslim)

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul.

Uwais Al Qarni lahir disebuah desa terpencil bernama Qaran di dekat Nejed, Yaman, anak dari Amir, sehingga dia mempunyai nama lengkap Uwais bin Amir Al Qairani, karena beliau lahir dilahirkan di desa yang bernama Qaran, sehingga beliau lebih di kenal dengan sebutan Uwais Al Qarni. Dan para ahli sejarah tidak menceritakan tanggal dan tahun berapa beliau dilahirkan. Seorang anak yatim. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta, dan tidak ada sanak family lain.

Dikalangan para sufi beliau dikenal sebagai seorang yang ta'at dan berbakti kepada kedua orang tua (ibunya), dan kehiduapannya yang amat sederhana dan zuhud yang sejati, beliau juga dikenal sebagai orang sufi yang mempunyai ilmu kesucian diri yang amat luar biasa yang dilimpahkan Allah SWT kepadanya. Uwais Al-Qarni mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Uwais seringkali melakukan puasa, salat malam, berdoa, memohon petunjuk kepada Allah.

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya."

Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit, ternyata ia tak terkenal di bumi tapi justru sudah sangat terkenal di langit.

HIKMAH UWAIS
1. Bakti kepada orang tua adalah kewajiban setelah bakti kepada Allah dan rasul-Nya. Keridaan orang tua juga keridaan Allah. Kondisi saat ini, banyak anak remaja sudah jauh meninggalkan baktinya kepada ortu, nasehat bijak ortu dianggap sesuatu yang menghalangi kesenangan anak – dianggap nasehat kuno. Hal ini dibuktikan anak-anak yang nakal/kriminal ternyata jauh dari ortu atau melarikan diri dari keluarga. Oleh karena itu, menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua adalah sikap seorang muslim sejati, sebagaimana kisah Uwais dan ibunya.

رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ
“Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” lalu beliau ditanya; “Siapakah yang celaka, ya Rasulullah?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya).” (HR. Shahih Muslim)

2. Popularitas bukan tujuan hidup, terkenal bukan jaminan orang alim atau suci, dijadikan idola bukan jaminan kita selamat. Maka keikhlasan seseorang dalam berbuat tanpa pamrih (tanpa imbalan manusia, bukan karena pujian/sanjungan) adalah pengabdian yang luar biasa. Berbuat ikhlas

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syrik kecil”, para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa itu syirik kecil ? Rasulullah menjawab : “Riya’”. [HR. Ahmad]
Fakta sekarang adalah hilangnya nilai keikhlasan seseorang, sehingga segala sesuatu diukur dengan materi kebendaan daripada keberkahan. Misalnya orang bekerja semata-mata untuk mencari harta bukan untuk mencari keridaan Allah dan keberkahan harta. Pejabat bekerja bukan lagi menunaikan amanah tetapi mencari uang tambah sehingga tidak memperhatikan halal haram.

Nsehat Uwais al_Qarni: hidup asing/tidak dikenal ditengah-tengah ramainya orang/masyarakat lebih aku sukai, hal ini akan menjauh diri dari sifat sombong/takabur, riya/pamer, mengharapkan balasan dari orang lain, dll.

3. Ukuran kemuliaan orang tidak berdasarkan tingginya jabatan, melimpahnya harta, banyaknya anggota, tersedianya kemewahan-kemewahan lainnya. Akan tetapi pengabdian/ketaqwaan dan amal saleh adalah sumber ketenangan hidup dan kemuliaan seseorang. Uwais al-Qarni sudah membuktikan bahwa ia bukan siapa-siapa dalam hidupnya tetapi ketika wafat menjadi orang luar biasa. Oleh karena itu, keterbatasan hidup di dunia janganlah menjadi alasan untuk tidak beribadah kepada Allah, kekurangan hidup di dunia janganlah menjadikan kita jauh dari amal saleh. Justru sebaliknya kekurangan dan keterbatasan hidup kita jadikan pemicu semangat dalam beribadah kepada Allah Swt.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbuatan kalian.” (HR. Muslim)
4. Nasehat Uwais pada Umar dan Ali: "Carilah Rahmat Allah SWT dengan ta'at dan mengikuti dengan penuh pengharapan dan takutlah tuan kepada Allah SWT."

Seorang yang berkedudukan tinggi (semisal Khalifah Umar) tidak segan-segan meminta nasehat kepada kaum biasa/rakyat biasa. Artinya seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi bukan berarti terlepas/tidak memerlukan nasehat-nasehat dan merasa lebih tahu/pintar/professional dibandingkan orla. Termasuk ulama tidaklah bebas dari nasehat dan petunjuk orla.

Bagaimana Imam Abu Hanifah (7 tahun) mengalahkan argumentasi ulama senior yang sombong karena lebih pintar dan tahu dengan mengatakan "Allah tidak menyimpan kemuliaan dan keagungan kepada pemilik sorban yang besar dan para pejabat,dan para pembesar,tetapi kemuliaan hanya diberikan kepada orang yang ikhlas"


أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

No comments:

Post a Comment